liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
ronin86
cocol77
cocol77
cocol77
maxwin138
Media Perempuan Berkolaborasi untuk Hadapi Tantangan Utama

Media yang mengusung perspektif perempuan, Konde.co memulai kegiatan untuk memetakan kondisi media perempuan di Indonesia. Semoga penemuan ini dapat ditindaklanjuti dengan beberapa kolaborasi dalam menjawab tantangan tersebut.

Direktur Konde.co, Nani Afrida mengungkapkan, media perempuan menghadapi beberapa tantangan, mulai dari sulitnya memperluas jangkauan pembaca hingga krisis keuangan. Oleh karena itu, kerja sama di antara media perempuan menjadi suatu keharusan untuk menghadapi tantangan ini.

“Saling menguatkan sesama perempuan media merupakan hal yang paling rasional saat ini, di tengah berbagai tantangan yang dihadapi,” ujar Nani, Jumat (24/2).

Chief Community Officer dan Pemimpin Redaksi Femina, Petty S Fatimah mengatakan ada tiga tantangan yang dihadapi perkembangan media perempuan saat ini. Pertama, perubahan perilaku konsumen yang diikuti dengan perubahan industri media akibat digitalisasi. Perubahan ini membuat media harus beradaptasi dengan situasi digital.

“Media itu seperti air, tidak perlu tertawa sepuasnya, tapi harus beradaptasi,” kata Petty saat menghadiri Lokakarya Media Perempuan Arus Utama.

Perubahan dalam bisnis media merupakan tantangan media perempuan yang kedua. Wanita media tidak lagi hanya bergantung pada pendapatan iklan karena digitalisasi.

“Penghasilan berasal dari menampilkan iklan (advertorial) di situs web, melibatkan mereka dengan sangat cepat. Ketika iklan digital menjadi arus utama, iklan (iklan) tersedot ke YouTube, termasuk Google. Media memikirkan hal ini dengan sangat hati-hati,” ujarnya.

Tantangan ketiga adalah pergeseran isu perempuan. Diakui Petty, ada tren terkait isu perempuan yang menjadi fokus khalayak. Tren berubah dari waktu ke waktu, seperti isu besar kemaluan yang dipicu oleh media sosial, namun kemudian berganti dengan isu lain.

“Kalau kita ingin isu perempuan lebih menonjol, kita perlu lobi lagi. Kesetaraan perempuan di media harus dimulai dari visi misi perusahaan,” ujar Petty.

Sementara itu, Konde.co juga didukung oleh Google News Initiative dalam memberdayakan kolaborasi media perempuan di Indonesia dengan melibatkan media arus utama, selain melibatkan media perempuan alternatif.

Keterlibatan media arus utama diawali dengan Workshop Media Perempuan Arus Utama di Indonesia yang diadakan pada Jumat (24/2). Pertemuan tersebut untuk memetakan situasi, tantangan dan kebutuhan media perempuan arus utama.

Konde.co kemudian mengumpulkan delapan media arus utama yang memiliki rubrik khusus perempuan dan/atau ditujukan untuk pembaca perempuan, dalam Lokakarya Media Perempuan Arus Utama: “Mengurai Tantangan dan Kebutuhan Kolaborasi Media Perempuan Indonesia”. Media ini berasal dari Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Kalimantan.

Kegiatan ini merupakan rangkaian kedua dari rangkaian kegiatan Workshop Media Perempuan di Indonesia, dimana sebelumnya Jumat (17/3) mempertemukan 16 media alternatif perempuan. Kedua kegiatan tersebut dilakukan untuk memetakan kondisi media perempuan di Indonesia yang hasilnya akan dituangkan dalam sebuah laporan.

Sementara itu, Redaktur Media Indonesia, Indrastuti, menilai mengangkat isu perempuan tidaklah mudah. Menurutnya, pengambil kebijakan di media arus utama perlu memiliki kemauan untuk memberikan bagian dari isu-isu perempuan. “Isu perempuan muncul di (headline) HL saat ada kejadian besar,” ujarnya.

Sementara itu, wartawan Kompas Sonya Hellen Sinombore memaparkan isu perempuan yang menghiasi media setiap hari, namun yang terpenting adalah perspektif. Ia berharap media tidak menampilkan cara pandang yang merendahkan atau mengeksploitasi perempuan.

“Perempuan berhadapan dengan hukum, mereka selalu di meja redaksi, tapi bagaimana itu ditunjukkan? Itu harus dari sudut pandang perempuan, tapi tidak mudah. ​​Kita wartawan harus saling memberi kekuatan,” kata Sonya.

Dengan berbagai tantangan yang ada, Redaktur Pelaksana Dian Kardha Nova mengatakan, para sahabat media perempuan perlu bahu-membahu untuk bersuara, apalagi saat ini media sedang menghadapi tantangan munculnya influencer yang juga memperebutkan advertorial.

“Kalau kita kerja sama, suaranya bisa lebih besar, 10 media perempuan atau suara arus utama satu hal, pastikan sebarannya lebih luas,” ujar Dian.

Penasihat Redaksi Konde.co, Lestari Nurhajati mengatakan, saat ini banyak media arus utama yang membuka kanal isu perempuan. Sayangnya, mereka masih memiliki masalah klasik dalam mendapatkan pembaca dan layak secara finansial, tetapi mereka tetap kritis.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya pemetaan kondisi media perempuan di Indonesia untuk mendapatkan gambaran tentang tantangan dan kebutuhan untuk tumbuh lebih kuat ke depan. “Pemetaan media di Indonesia cukup kuat untuk menggambarkan bagaimana media bisa bertahan, tapi bagaimana dengan media perempuan di Indonesia yang masih perlu didalami,” ujarnya.