liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
Korsel Laporkan Kematian Pertama akibat Amoeba Pemakan Otak

Korea Selatan telah mengidentifikasi kasus infeksi pertamanya dengan Naegleria fowleri, atau amuba pemakan otak. Seorang pria berusia 50-an meninggal 10 hari setelah menunjukkan gejala infeksi langka namun mematikan ini.

Mengutip Korea Times, Korea Disease Control and Prevention Agency (KDCA) mengonfirmasi pada Senin (26/12) bahwa pria asal Korea Selatan ini telah tinggal di Thailand selama empat bulan sebelum masuk ke Korea pada 10 Desember 2022. Ia meninggal dunia pada Rabu (21/12) setelah terinfeksi Naegleria fowleri.

Pasien mulai menunjukkan gejala meningitis, seperti sakit kepala, demam, muntah, bicara cadel dan leher kaku pada malam kedatangannya. Dia dipindahkan ke ruang gawat darurat keesokan harinya.

Setelah pasien dinyatakan meninggal, otoritas kesehatan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan penyebab pasti kematiannya. Mereka kemudian menemukan infeksi naegleria fowleri.

Ini adalah kasus resmi pertama infeksi dari amoeba pemakan otak di Korea Selatan. KDCA tidak menemukan jalur penularan yang tepat, tetapi menyatakan bahwa berenang di air yang terkontaminasi atau membilas hidung dengan air yang tidak aman adalah penyebab utama infeksi.

Naegleria fowleri adalah amuba bersel tunggal yang biasa ditemukan di air tawar hangat seperti danau, sungai, dan kolam. Mereka dapat memasuki tubuh manusia melalui hidung, menyebabkan infeksi otak langka dan mengancam jiwa yang disebut meningoensefalitis ameba primer. Tingkat kematian hingga 97%, tetapi infeksi tidak menyebar antar manusia.

Protozoa ini pertama kali ditemukan pada tahun 1965 oleh ahli patologi Australia Malcom Fowle. Hingga saat ini, total 381 kasus infeksi Naegleria fowleri telah diidentifikasi di seluruh dunia dari tahun 2018 hingga 2020.

Ahli mikrobiologi lokal mengatakan warga Korea Selatan tidak perlu terlalu khawatir tentang kasus pertama amoeba pemakan otak karena parasit tersebut tidak mungkin ada di negara tersebut. Namun, mereka memperingatkan bahwa jumlah kasus di seluruh dunia terus meningkat.

Shin Ho-joon, ahli mikrobiologi di Universitas Ajou mengatakan bahwa begitu seorang pasien terinfeksi naegleria fowleri, peluang untuk bertahan hidup sangat rendah karena penyakit ini berkembang dengan cepat.

Diagnosis dan pencegahan infeksi sangat sulit karena gejala awalnya mirip dengan flu biasa. Pasien kemudian menunjukkan gejala seperti leher kaku, koma dan kehilangan kesadaran untuk waktu yang singkat.

“Kematian dapat terjadi pada hari-hari berikutnya. Itu sebabnya dalam banyak kasus infeksi terdeteksi setelah kematian,” ujarnya.

Sampai saat ini, belum ada pengobatan atau vaksin yang efektif melawan infeksi yang disebabkan oleh amoeba pemakan otak ini. Tim risetnya telah bekerja untuk mengembangkan vaksin potensial melawan patogen yang ditularkan melalui air ini. Eksperimen awal pada tikus telah menunjukkan hasil yang menjanjikan. Namun, efektivitasnya pada manusia belum terbukti.