liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
Digitalisasi Dapat Menghemat Biaya Rumah Sakit Hingga Rp2 Miliar

Kepala Kantor Transformasi Digital Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Setiaji mengatakan digitalisasi layanan kesehatan akan menghemat biaya yang harus ditanggung rumah sakit. Setiaji mencontohkan, digitalisasi bisa menghemat biaya hingga Rp 2 miliar setiap tahun di rumah sakit tipe C.

Setiaji menjelaskan, selama ini biaya rekam medis non elektronik masih tergolong tinggi. Mulai dari biaya kertas hingga petugas kesehatan yang harus melakukan pencatatan berulang kali.

“Bahkan, anggaran bisa diubah untuk menghasilkan sistem yang biayanya lebih murah. Karena untuk membangun sistem, rumah sakit tidak perlu membangun infrastruktur,” kata Setiaji dalam webinar yang diselenggarakan Katadata dan Dell Indonesia bertajuk ‘Building The Healthcare Masa Depan’, Kamis (19/1/2023).

Dikatakannya, digitalisasi membuat pelayanan kesehatan menjadi lebih mudah. Mulai dari mempersingkat waktu tunggu pasien saat mendaftar di rumah sakit, hingga memudahkan pasien mengakses layanan kesehatan dimanapun berada.

“Dari sisi pelayanan akan lebih cepat. Kita (rumah sakit) tidak perlu lagi menginput data berulang kali. Kemudian, digitalisasi memungkinkan pasien untuk segera mendapatkan rekam medis atau hasil pemeriksaannya,” ujarnya.

Namun, lanjutnya, digitalisasi layanan kesehatan juga memiliki tantangan tersendiri. Rumah sakit yang telah menerapkan digitalisasi sistem sebagian besar belum komprehensif. Tidak semua layanan di rumah sakit terkoneksi secara digital.

“Mungkin di front end atau pendaftaran online, tapi di back end tidak terhubung dengan pelayanan perorangan seperti apotek, laboratorium, radiologi termasuk rawat inap,” ujarnya.

Untuk mewujudkan digitalisasi pelayanan kesehatan, lanjut Setiaji, pemerintah telah menyiapkan regulasi. Mulai dari UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) hingga UU Kesehatan yang kemudian akan menjadi omnibus dengan regulasi pendukung lainnya.

Direktur Utama Mayapada Hospital, Grace Tahir mengatakan, rumah sakit di Indonesia perlu mengacu pada sistem berbasis digitalisasi, khususnya rekam medis pasien.

Saat ini, kata dia, Mayapada sedang bertransformasi menjadi smart hospital atau rumah sakit pintar. Namun pada akhirnya, lanjutnya, apa yang seharusnya dilakukan rumah sakit atau layanan kesehatan harus kembali ke pengalaman pasien.

“Semua yang kami lakukan adalah untuk memberikan pengalaman bagi pasien ini. Bahkan, beberapa pengalaman dari rumah sakit Mayapada kami memiliki slogan yaitu pengalaman perawatan yang lebih baik. Bagi kami, yang terpenting adalah kesabaran,” kata Grace.

Ia mengungkapkan ada lima pilar yang sangat penting dalam pengalaman pasien. Pertama, koordinasi dan integrasi perawatan. Perlu ada kolaborasi dan integrasi, dan bekerja sama untuk meningkatkan perawatan pasien.

Kemudian, pilar kedua adalah empati dari tim rumah sakit. Bukan hanya di garis depan yang menangani pasien, tapi juga orang-orang yang bekerja di belakang meja. Menurutnya, mereka yang bekerja di belakang meja seringkali tidak bertemu langsung dengan pasien sehingga tidak memiliki rasa keterikatan dengan pasien.

“Setiap orang perlu berempati dengan pasien. Walaupun kita bilang kita adalah rumah sakit pintar, walaupun obatnya jauh, ada robot dengan mesin pencari, tapi pada akhirnya manusia tetap membutuhkan sentuhan manusia dan kontak langsung dengan petugas kesehatan,” ujarnya.

Ketiga adalah informasi, komunikasi dan edukasi, yang berlaku tidak hanya untuk pasien tetapi juga untuk pekerja rumah sakit. Menurut Grace, informasi antar komunikasi harus bisa bekerja untuk meningkatkan pelayanan yang berdampak pada pasien itu sendiri.

Keempat, lingkungan rumah sakit dan kenyamanan fisik untuk perawatan pasien. Seperti masalah kebersihan, kenyamanan, pencahayaan, hingga suasana.

Dan pilar kelima adalah akses dan daya tanggap. Menurut Grace, di masa pandemi Covid-19, akses tidak hanya soal rumah sakit atau ketersediaan tempat tidur, tapi juga soal akses biaya pengobatan, obat-obatan, dan tenaga kesehatan. Bahkan hal-hal sederhana seperti parkir, akses untuk mengetahui ke mana harus pergi.

“Jadi ini lima pilar patient experience yang harus diterapkan meski rumah sakit sudah menerapkan sistem digitalisasi,” ujar Grace.